Anugerah Jurnalistik Adinegoro, Marwah Sebuah Jurnalisme
Anugerah Jurnalistik Adinegoro kembali digelar Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat tahun ini. Penghargaan bergengsi di dunia jurnalistik Indonesia pada tahun 2021 kini mengusung tema ‘Semangat dan Harapan’.
Kompetisi jurnalisme tertinggi di Tanah Air, Anugerah Jurnalistik Adinegoro kembali diselenggarakan untuk menyambut Hari Pers Nasional 2022. PWI Pusat mengundang seluruh wartawan media cetak, siaran televisi dan radio, serta media siber untuk turut serta dalam perhelatan akbar jurnalistik Indonesia ini.
Kompetisi wartawan seperti ini kian penting di masa post-truth seperti saat ini. Keberadaan jurnalisme warga (citizen journalism) atau sosial media saat ini menjadi tantangan untuk penegakkan jurnalisme yang sesuai kode etik pers. Ditambah dengan kondisi publik yang belum dapat menempatkan pers dan media sosial sesuai dengan proporsi yang tepat.
Ketua Umum PWI Pusat Atal S. Depari, mengatakan bahwa dengan profesionalisme dan kompetensi insan pers, maka cita-cita agung pers nasional untuk turut andil besar dalam demokrasi Indonesia pun akan tercapai.
Atal juga mengutip salah satu pernyataan tokoh pers nasional, Rosihan Anwar, “kapanpun zamannya wartawan harus tetap berkompeten. Yakni berwawasan keilmuan, professional, dan beretika, jika tidak maka matilah jurnalisme kita”.
Marwah Sebuah ‘Kejujuran’
Wartawan senior ini yakin bahwa disamping profesionalisme dan kompetensi yang dipegang erat jurnalis, akan lebih terhormat manakala para insan pers nasional memegang sebuah kode kehormatan yang dimiliki Adinegoro. Tak lain dan tak bukan adalah ‘kejujuran’.
Kejujuran disini tidak hanya terletak pada apa yang dilakukan seorang wartawan dalam hidupnya, namun pada dasarnya Ia juga mesti berlaku jujur atas profesi yang diembannya. Karenanya, Adinegoro pernah mengatakan bahwa untuk menjadi jurnalis, seseorang harus dapat jujur atas dirinya dan terhadap profesinya.
“Jurnalistik adalah profesi moral dan intelektual,” ujar mantan wartawan Tempo, Narliswandi Piliang.
Keberadaan pers yang saat ini kian terkooptasi, membawa kekhawatiran beliau terhadap jurnalisme di Indonesia saat ini. Komitmen pers terhadap hati nurani mesti terus dikedepankan, agar marwah dua diksi ‘moral dan intelektual’ akan terus terjaga.
Saat ini yang menjadi tugas seluruh wartawan di Indonesia adalah mengembalikan ke-Adinegoro-an dalam jurnalistik, yakni membuktikan hidupnya dan mengabdikan dirinya untuk masyarakat dan kemanusiaan.
Semangat Juga Harapan
Untuk itu, penyelenggaraan Anugerah Jurnalistik Adinegoro ini diharapkan mampu menghadirkan sosok Adinegoro dalam karya-karya jurnalisme nantinya yang akan diperlombakan.
Seperti tema yang diusung pada penghargaan Adinegoro ini, semangat dan harapan mesti diperlihatkan jurnalis kepada publik agar dapat menginspirasi dan membangkitkan kesadaran masyarakat untuk tetap bertahan di tengah situasi yang serba sulit di masa pandemi.
Ketua Panitia Tetap Adinegoro Rita Sri Hastuti, pun mengatakan bahwa semangat dan harapan tersebut ingin diperlihatkan panitia sebagai cara untuk menghadirkan sosok Adinegoro dalam perhelatan jurnalistik ini.
“Katakanlah dalam harapan ada kekuatan yang membuat kita berjuang untuk mencapai sebuah keberhasilan dan mematahkan segala rintangan. Sedangkan semangat adalah alat yang diperlukan untuk mencapai sebuah harapan,” terang Rita.
Anugerah Jurnalistik Adinegoro ini masih dibuka hingga 30 November 2021. Untuk itu, perlombaan ini memanggil para wartawan, pewarta foto, dan karikaturis yang masih giat dalam berkarya di dunia jurnalistik agar turut serta mengikuti penghargaan Adinegoro ini. (M.Adil / PNJ )
Komentar
Posting Komentar