Harapan Baru Ribuan Penduduk Gaza

     Munir Hamo Palestina minum kopi di sebelah potret ibunya, di dalam rumah keluarganya, karena ia akan segera dapat bersatu dengan istri dan enam anaknya untuk pertama kalinya dalam 14 tahun setelah Israel menyetujui permintaannya untuk penyatuan keluarga yang akhirnya akan memungkinkan dia untuk melakukan perjalanan ke luar daerah kantong, di Jalur Gaza tengah, pada 19 Oktober 2021. (Reuters)


Munir Harmo, satu di antara 5.000 warga Palestina yang sebentar lagi dapat bernapas lega. Setelah 15 tahun terakhir terjebak dalam regulasi pembatasan perjalanan di Gaza, kini Ia mendapat persetujuan langka oleh Israel terkait legalitas penduduk Palestina di sana.


15 tahun bukanlah waktu yang sebentar untuk Munir Harno meninggalkan keluarganya. Ayah dari seorang istri dan enam anak ini mendapati permasalahan awalnya sejak meninggalkan Gaza untuk pindah ke Yordania pada tahun 1981.

 

Langkah yang ditempuh Harno ini justru menyebabkan hilangnya tempat tinggal permanennya di daerah kantong Palestina, karena daerah itu semua berhasil diduduki Israel melalui kesepakatan perdamaian sementara antara Israel dengan Palestina pada tahun 1990-an, yang mana Israel pernah merebut Tepi Barat dan Gaza pada perang Timur Tengah tahun 1967.

 

Dari kesepakatan itulah mengakibatkan legalitas kependudukan yang ada di daerah tersebut dikuasai Israel.

 

Kisah Harno dimulai ketika setahun setelah Israel menarik pasukan dan pemukimnya di Gaza, yakni tahun 2006, dimana Ia mendapatkan izin perjalanan sementara oleh Otoritas Palestina untuk dapat menyambangi ibunya yang dalam kondisi sakit, di kediamannya di Gaza.


Namun niat baik itu malah membuat dirinya terjebak pada regulasi yang dibuat Israel dan juga Mesir. Atas dasar masalah keamanan, kedua negara itu memperketat pembatasan perjalanan untuk warga Palestina di perbatasan mereka dengan Gaza.


Harno sudah bertahun-tahun mencoba melewati penyeberangan perbatasan Rafah Mesir, tetapi itikadnya tersebut masih terhalangi. Bahkan di tahun 2012, Ia berhasil mencapai perbatasan Yordania. Tapi lagi-lagi tanpa adanya paspor atau dokumen identitas yang sah, Yordania menolaknya sehingga Ia harus kembali ke Gaza.


Israel memang menangguhkan persetujuan pendaftaran penduduk sejak pemberontakan Palestina terjadi pada tahun 2000. Kemudian di tahun 2008 dan 2009, negara itu memberikan sekitar 32.000 izin untuk menempuh tahap legalitas penduduk Gaza ini, tetapi sebagian besar dibekukan prosesnya kecuali yang terkait dengan kasus kemanusiaan.


Kelompok advokasi Palestina memperkirakan bahwa terdapat sekitar 20.000 orang di Tepi Barat dan Gaza masih tidak memiliki keabsahan dokumen, sehingga sampai saat ini masih belum mendapatkan tempat tinggal yang resmi.


Harno yang kini berstatus sebagai pensiunan pegawai negeri sangat menantikan dokumen perjalanan dan identitasnya dikeluarkan oleh otoritas di negara terkait.


“Saya merasa bahagia seperti seorang tahanan yang menjalani hukuman seumur hidup yang baru mengetahui bahwa dia dibebaskan lebih awal,” katanya di rumahnya di kamp pengungsi Bureij Gaza.


Pada akhirnya, setelah 15 tahun Harno hidup di Gaza tanpa istri dan anak-anaknya, dirinya mendapatkan harapan akan dapat berkumpulnya kembali dengan mereka. Hal ini akan tercapai karena Ia bersama ribuan warga Palestina lainya menerima persetujuan langka Israel, dimana mereka dimasukkan ke dalam daftar penduduk Palestina pada awal Oktober 2021.


Sehingga Harno serta 5.000 warga Palestina akan terpenuhi syarat dari dokumen resminya, seperti paspor Palestina. Yang mana ini akan memungkinkan Harno untuk dapat melakukan perjalanan ke luar negara bagian ini, yakni Gaza. ( M.Adil / PNJ )



Sumber :


Israel’s new family unification approvals bring hope to thousands of Palestinians

 

https://english.alarabiya.net/News/middle-east/2021/10/25/Israel-s-new-family-unification-approvals-bring-hope-to-thousands-of-Palestinians

Komentar