Kabut Otak dan Kehilangan Memori, Penyakit yang Timbul Pasca Covid-19

                                        sumber : google.com

Gejala yang dirasakan para pengidap Covid-19 ternyata tidak hanya terjadi saat dirinya mengalami penyakit tersebut. Namun pada sebuah studi penelitian, masih terdapat banyak efek samping yang berpotensi dialami penyintas Covid-19, salah satunya Kabut Otak dan Kehilangan Memori.

Dilansir dari HEALTH.COM, Covid-19 tidak hanya menyebabkan gejala-gejala yang terjadi selama pasien mengidap penyakit tersebut (sesak napas, batuk, demam, dan anosmia). Bahkan setelah pasien sembuh dari virus, masih terdapat banyak potensi gejala pasca Covid-19, sebut saja Kabut Otak dan Kehilangan Memori.

 

Tetapi hal tersebut masih dalam pengembangan para ahli yang mana mereka masih dalam tahap penentuan, apakah sebenarnya kedua gejala pasca Covid-19 tersebut benar-benar terjadi karena virus ini atau sebab lainnya.

 

Studi yang dipublikasikan pada 22 Oktober 2021 di JAMA Network Open, membuat analisis data dari 740 orang di rentang usia rata-rata 49 tahun yang mengidap Covid-19 selama 7,5 bulan terakhir. Hasilnya adalah sebagian besar dari mereka mengalami defisit kognitif atau kesulitan berpikir, seperti kabut otak.

 

Masalah yang ditemukan umumnya adalah pengkodean memori, yakni mempelajari informasi baru dan ingatan, dimana masing-masingnya terjadi hanya sekitar 24% dan 23% dari peserta studi (objek penelitian). Mereka yang dirawat di rumah sakit dengan mengidap Covid-19 lebih berisiko mengalami masalah tersebut dibandingkan yang dirawat jalan.

 

"Kami mulai melihat bahwa, dari waktu ke waktu, begitu banyak pasien yang mengeluhkan kesulitan yang tersisa ini (gejala pasca Covid-19)," kata Seorang Neuropsikolog Klinis dan Ilmuwan asosiasi di Divisi Penyakit Dalam Umum di Sekolah Kedokteran Icahn di Gunung Sinai di New York City, Jacqueline H. Becker, PhD.

 

Penulis utama studi ini tersebut mengatakan bahwa dia dan rekan-rekannya salah persepsi, karena sebagian besar orang yang mengalami masalah kognitif ialah kalangan muda, bukan kalangan tua.

 

Becker mendapati bahwa Kabut Otak ini berada pada masa long COVID, yakni sebuah kondisi misterius yang dapat berkembang pasca Covid-19. Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) juga mencatat bahwa kondisi tersebut terjadi di rentang waktu empat minggu atau lebih setelah virus tertular.

 

Beberapa gejala yang dicatat CDC pada masa long-COVID ini, antara lain :

 

  • Kesulitan bernapas atau sesak napas
  • Kelelahan atau kelelahan
  • Gejala yang memburuk setelah aktivitas fisik atau mental
  • kabut otak
  • Batuk
  • Sakit dada atau perut
  • Sakit kepala
  • Berdetak cepat atau jantung berdebar-debar
  • Nyeri sendi atau otot
  • Perasaan tertusuk jarum
  • Diare
  • Masalah tidur
  • Demam
  • Pusing saat berdiri
  • Ruam
  • Perubahan suasana hati
  • Perubahan bau atau rasa
  • Perubahan siklus menstruasi

 

Penyebab dari Kabut Otak dan masalah mental lainnya terjadi masih menjadi pertanyaan bagi segala kalangan. Karena di beberapa studi penelitian pun belum ada yang menyatakan langsung apa yang menjadi penyebab beberapa masalah pasca-COVID tersebut terjadi. Hanya salah satu kemungkinannya adalah SARS-CoV-2, yakni virus penyebab Covid-19, yang mana dapat langsung menyerang sistem saraf pusat dan otak.

"Kami telah melihat ini dalam beberapa studi otopsi, tetapi itu jelas bias karena mereka pada orang yang tidak selamat dari COVID," kata Becker.

 

Di teori lainnya, Becker mengatakan bahwa Kabut Otak bisa saja disebabkan oleh virus yang menyebabkan peradangan kronis, bahkan setelah pasien pulih dari Covid-19. Bahkan, di teori terakhirnya, Ia menambahkan bahwa seseorang dapat merasakan perkembangan hipoksia, atau kekurangan oksigen ke jaringan tubuh seperti otak, ketika mereka memiliki virusnya, dan kemudian mendapati efek sampingnya yakni Kabut Otak.

 

"Disfungsi kognitif kemungkinan multi-faktorial dan mungkin akibat dari efek virus langsung pada sistem saraf pusat, efek kekebalan, beberapa faktor risiko dasar atau kombinasi dari semuanya," kata ahli penyakit menular Amesh A. Adalja, MD.

 

Kabut Otak ini masih dimungkinkan terjadi karena faktor-faktor lain. Namun, satu hal yang pasti adalah gejala ini bukan hal yang langka. Jika Anda mengalami gejala Kabut Otak ini, maka langkah terbaiknya ialah periksakan ke dokter perawatan primer.

 

Walau tidak jelas berapa lama Kabut Otak ini akan hilang dari pengidapnya, tetapi Becker meyakini bahwa gejala ini dapat disembuhkan, yakni sekitar 10 bulan atau lebih lama dari itu.

 

“Penelitian khususnya mengamati pasien setelah rata-rata tujuh setengah bulan dan masih menemukan ‘kerusakan tingkat tinggi’. Tapi, itu bisa sembuh setelah, katakanlah, 10 bulan atau bertahan lebih lama,” kata Becker.

 

Meski saat ini ada banyak hal yang belum diketahui terkait Kabut Otak. Becker dan timnya akan terus meneliti gejala yang timbul setelah Covid-19 ini, agar mendapatkan lebih banyak jawaban atas segala persoalan dari Kabut Otak ini. (M.Adil / PNJ)

 

 

Sumber :

 

COVID Can Cause Brain Fog and Memory Loss

Even After You've Recovered From the Virus, New Study Suggests


https://www.health.com/condition/infectious-diseases/coronavirus/covid-brain-fog

Komentar